Tampilkan postingan dengan label MATERI SENI BUDAYA XII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MATERI SENI BUDAYA XII. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Mei 2012

MAKET

MAKET


maket-11_resize
foto041_resize
Maket. Bagi yang berkecimpung di dunia desainer terutama arsitek tentunya sudah familier dengan kata satu ini.
Maket seperti judul di atas merupakan penyambung lidah dari desainer. Maket dapat berbicara seribu kata, sementara dalam waktu yang sama si arsitek baru berbicara satu kalimat saja.. (wow).
Keunggulan maket adalah daya interaktifnya. Pengamat dapat dengan mudah menggerakkan badannya untuk melihat angle yang berbeda dalam mengamati. Bila ia ingin mengamati sisi depan, maka bergeraklah ia ke depan. Bila ia ingin melihat bagian dalam, maka bergeraklah dia ke bagian dalam. Nginceng. Begitu istilahnya. Sistem interaktif maket pada dasarnya mengalahkan program 3D. Karena pengamat dapat dengan leluasa memilih bagian mana yang hendak ia lihat. Berbeda dengan program 3D yang membutuhkan operator sebagai bantuan. Berbeda pula dengan animasi 3D (film) yang view dan angle cameranya sudah di set oleh sang sutradara. (non-interaktif).
Pada prinsipnya maket dibagi menjadi 2. Maket studi, dan maket penyajian.
Maket studi dibuat ketika seorang desainer sedang mencari bentukan. Si desainer belum tahu bentukan bangunan final nanti seperti apa. Melalu maket studi, ia mencoba, mencoba dan mencoba lagi. Tujuannya hanya satu. Mendapatkan bentukan yang baik tanpa mengurangi kualitas penataan ruang di dalamnya. Bahasa maduranya “Trial and Error” alias coba-coba. Buat bentukan kotak, kok jelek ya? dipotong sedikit jadi segitiga. Lalu ditambahkan jendela kecil-kecil. Lho kurang match ya? Jendelanya dibesarkan lagi. Begitu seterusnya..
img_4739_resizeimg_4741_resizeimg_4730_resizeimg_4745_resizeimg_4748_resize
img_4747_resize
Foto-foto di atas adalah maket studi yang biasanya kami buat di kantor kami. Bahannya tidak mahal. Cuma karton biasa.
Mungkin lalu timbul pertanyaan di benak anda. Sekarang ini sudah jaman canggih. 3D sudah maju pesat. Lho kok kantor saya masih ‘jadul’ pakai jurus gunting dan lem?
Entah saya yang ‘old fashioned’ atau bagaimana.. Menurut saya, dalam desain bangunan yang kompleks (tidak sederhana), dimana kompleksitas desain sedemikian tinggi, saya wajib membuat maket studi…
Hal yang tidak tergantikan dari maket studi adalah “sense of space“nya sangat terasa. Skala manusia, skala mobil, skala megah… semuanya begitu terasa. Feel ini sangat dibutuhkan dalam membayangkan bangunan yang di desain. 3D komputer memang dapat melakukan hal serupa. Tapi karena tampilannya tetap 2D di layar monitor tetaplah merupakan kendala tersendiri.. Hal demikian yang menyebabkan kantor kami masih membuat “prakarya” hingga dewasa kini.
Pernah beberapa kali saya mengadakan rapat lintas tim. Tim Arsitektur, Tim Struktur, Tim Mekanikal Elektrikal saya kumpulkan untuk koordinasi rutin. Hal yang tidak saya sangka adalah rapat tersebut dapat membahas masalah hingga tuntas hanya dengan menghadapi maket!
Tinggal tunjuk posisi yang ingin diceritakan, lalu dikupas tuntas. Semua mengerti, tak ada detail yang tertinggal. Menceritakan air hujan, Tim Mekanikal tinggal bercerita sambil menunjukkan tangannya ke arah atap, tiang kolom yang dimaksud dan berbagai posisi lainnya. Tim Struktur mendapatkan gambaran desain secara global. Secara makro mereka sudah dapat memetakan titik-titik tertentu yang butuh perhatian khusus, terutama jarak yang mempunyai bentang lebar.
Hingga rapat tersebut selesai, LCD proyektor beserta laptop yang telah saya sediakan sama sekali tidak terpakai. Para tim yang hadir lebih menyukai membahas permasalahan mereka dengan menggunakan maket daripada LCD proyektor.
Pada hari itu, saya belajar banyak mengenai kegunaan maket dalam koordinasi antar tim.
MAKET JADI aka MAKET PEYAJIAN
Bila kita beranjak satu tingkat lebih tinggi, maka kita akan menjumpai MAKET FINAL.
Hanya sedikit orang yang berkecimpung dalam bidang ini. Selain sulit, mereka yang mengejakan setidaknya harus mempunyai background arsitektur. Mereka harus bisa membaca dan membuka file CAD. Harus mempunyai ketelatenan tinggi, kesabaran extra dan kuat lemburan!
Bisa dikatakan orang yang membuat maket penyajian adalah bentuk lain dari seniman. Seniman miniatur.
Saya sendiri bukanlah seorang seniman maket. Sampai saat ini, saya masih sering terpesona oleh rekan-rekan di bidang ini. Ketelatenan mereka, kerapian pekerjaan mereka, kesabaran mereka, dan kekuatan mereka untuk tidak tidur!
Bayangkan membuat sesuai dalam ukuran kecil. Untuk merekatkan saja harus pakai bantuan pinset. Tidak bisa pakai tangan karena terlalu besar. Lem biasanya dimasukkan ke dalam jarum suntik agar tidak jembret ketika bekerja.
Kemarin ketika koordinasi seputar pekerjaan yang kantor kami terima, salah satu dari tim maket kembali membuat saya bengong. (terpesona). Tiang-tiang bangunan yang kami desain bermotif ukir, dibuat oleh mereka! dan hasilnya sama persis. Wow.
Di bawah ini saya coba urutkan gambar mulai dari maket studi,  tiga dimensi rencana hingga maket jadi.
img_4741_resize
01 - Maket Studi
overview_resize
02 - Tiga Dimensi Komputer
foto041_resize1
03 - Maket Final (dalam proses)
Perhatikan desain tiang kami berikut ini. Lalu bandingkan dengan hasil “batik” dari tim maket. AMAZING!
kepala-kolom
Desain tiang dengan ornamennya
img_0173_resize
Ukiran dari tim maket - Pensil sebagai perbandingan skalanya. Lihat betapa kecilnya!
img_0171_resize
Model awal yang akan digunakan sebagai cetakan
img_0172_resize
Hasil cetakan tiang dengan ornamennya.Wow!
Luar biasa! cuma kata-kata itu yang terus lewat di kepala saya. Memang tidak semua orang bisa menjadi seniman seperti di atas. Seni dengan bidang yang unik. Menarik untuk diperhatikan dan diamati.
Masih ada beberapa lagi hal yang membuat saya kagum. Dinding yang kami desain mempunyai bentukan keluar-masuk. Tim maket membuatnya persis! Bahkan hingga ke pola lantainya.
Saya sampai geleng-geleng. Mungkin tinggal saya tambahkan boneka barbie dan Ken. Jadilah maket itu rumah mereka. Hehehehe.
Well, setidaknya tulisan ini saya tulis untuk mengungkapkan kekaguman saya kepada seniman di belakang layar. Seniman yang seringkali tidak terdengar dan di nomor duakan. Pengamat maket lebih sering menanyakan : “Siapa arsiteknya?” ketimbang “Siapa yang membuat maketnya?”.
Semoga melalui tulisan ini kita dapat melihat dan mulai menghargai jasa seniman miniatur ini. Seniman dalam bidang yang unik dan menarik.
Salam.
Erwin.

KRIYA

KRIYA

Seni kriya adalah cabang seni yang menekankan pada ketrampilan tangan yang tinggi dalam proses pengerjaannya. Seni kriya berasal dari kata “Kr” (bhs Sanskerta) yang berarti ‘mengerjakan’, dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya, kriya dan kerja. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau obyek yang bernilai seni” (Prof. Dr. Timbul Haryono: 2002).
Dalam pergulatan mengenai asal muasal kriya Prof. Dr. Seodarso Sp dengan mengutif dari kamus, mengungkapkan “perkataan kriya memang belum lama dipakai dalam bahasa Indonesia; perkataan kriya  itu berasal dari bahasa Sansekerta yang dalam kamus Wojowasito diberi arti; pekerjaan; perbuatan, dan dari kamus Winter diartikan sebagai  ‘demel’ atau membuat”. (Prof. Dr. Soedarso Sp, dalam Asmudjo J. Irianto, 2000)
Sementara menurut Prof. Dr. I Made Bandem kata “kriya” dalam bahasa indonesia berarti pekerjaan (ketrampilan tangan). Di dalam bahasa Inggris disebut craft berarti energi atau kekuatan. Pada kenyataannya bahwa seni kriya sering dimaksudkan sebagai karya yang dihasilkan karena skill atau ketrampilan seseorang”. (Prof. Dr. I Made Bandem, 2002)
Dari tiga uraian ini dapat ditarik satu kata kunci yang dapat menjelaskan pengertian kriya adalah; kerja, pekerjaan, perbuatan, yang dalam hal ini bisa diartikan sebagai penciptaan karya seni yang didukung oleh ketrampilan (skill) yang tinggi.
Seperti telah disinggung diawal bahwa istilah kriya digali khasanah budaya Indonesia tepatnya dari budaya Jawa tinggi (budaya yang berkembang di dalam lingkup istana pada sistem kerajaan). Denis Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang budaya, menyatakan ‘istilah kriya yang diambil dari kryan menunjukkan pada hierarki strata pada masa kerajaan Majapahit, sebagai berikut; “Pertama-tama terdapat para mantri, atau pejabat tinggi serta para arya atau kaum bangsawan, lalu para kryan yang berstatus kesatriya dan para wali atau perwira, yang tampaknya juga merupakan semacam golongan bangsawan rendah’. (Denis Lombard dalam Prof. SP. Gustami, 2002)
Menyimak pendapat Prof. SP. Gustami yang menguraikan bahwa; seni kriya merupakan warisan seni budaya yang adi luhung, yang pada zaman kerajaan di Jawa mendapat tempat lebih tinggi dari kerajinan. Seni kriya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan dan masyarakat elit sedangkan kerajinan didukung oleh masyarakat umum atau kawula alit, yakni masyarakat yang hidup di luar tembok keraton. Seni kriya dipandang sebagai seni yang unik dan berkualitas tinggi karena didukung oleh craftmanship yang tinggi, sedangkan kerajinan dipandang kasar dan terkesan tidak tuntas. Bedakan pembuatan keris dengan pisau baik proses, bahan, atau kemampuan pembuatnya.
Lebih lanjut Prof. SP. Gustami menjelaskan perbedaan antara kriya dan kerajinan dapat disimak pada keprofesiannya, kriya dimasa lalu yang berada dalam lingkungan istana untuk pembuatnya diberikan gelar Empu. Dalam perwujudannya sangat mementingkan nilai estetika dan kualitas skill. Sementara kerajinan yang tumbuh di luar lingkungan istana, si-pembuatnya disebut dengan Pandhe. Perwujudan benda-benda kerajinan hanya mengutamakan fungsi dan kegunaan yang diperuntukkan untuk mendukung kebutuhan praktis bagi masyarakat (rakyat). (Prof. SP. Gustami, 2002) Pengulangan dan minimnya pemikiran seni ataupun estetika adalah satu ciri penanda benda kerajinan.
Pemisahan yang berdasarkan strata atau kedudukan tersebut mencerminkan posisi dan eksistensi seni kriya di masa lalu. Seni kriya bukanlah karya yang dibuat dengan  intensitas rajin semata, di dalamnya terkandung nilai keindahan (estetika) dan juga kualitas skill yang tinggi. Sedangkan kerajinan tumbuh atas desakan kebutuhan praktis dengan mempergunakan bahan yang tersedia dan berdasarkan pengalaman kerja yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari.
Kembali  ditegaskan oleh Prof. SP. Gustami: seni kriya adalah karya seni yang unik dan punya karakteristik di dalamnya terkandung muatan-muatan nilai estetik, simbolik, filosofis dan sekaligus fungsional oleh karena itu dalam perwujudannya didukung  craftmenship yang tinggi, akibatnya kehadiran seni kriya termasuk dalam kelompok seni-seni adiluhung (Prof. SP.Gustami, 1992:71).
Uraian tadi menyiratkan bahwa kriya merupakan cabang seni yang memiliki muatan estetik, simbolik dan filosofis sehingga menghadirkan karya-karya yang adiluhung dan munomental sepanjang jaman. Praktek kriya pada masa lalu dibedakan dari kerajinan, kriya berada dalam lingkup istana (kerajaan) pembuatnya diberi gelar Empu. Sedangkan kerajinan yang berakar dari kata “rajin” berada di luar lingkungan istana, dilakoni oleh rakyat jelata dan pembuatnya disebut pengerajin atau pandhe.
Dari beberapa pendapat yang telah dibahas sebelumnya menjelaskan bahwa wujud awal seni kriya lebih ditujukan sebagai seni pakai (terapan). Praktek seni kriya pada awalnya bertujuan untuk membuat barang-barang fungsional, baik ditujukan untuk kepentingan keagamaan (religius) atau kebutuhan praktis dalam kehidupan manusia seperti; perkakas rumah tangga. Contohnya dapat kita saksikan pada dari artefak-artefak berupa kapak dan perkakas pada jaman batu serta peninggalan-peninggalan dari bahan perunggu pada jaman logam berupa; nekara, moko, candrasa, kapak, bejana, hingga perhiasan seperti; gelang, kalung, cincin. Benda-benda tersebut dipakai sebagai perhiasan, prosesi upacara ritual adat (suku) serta kegiatan ritual yang bersifat kepercayaan seperti; penghormatan terhadap arwah nenek moyang.
Masuknya agama Hindu dan Budha memberikan perubahan tidak saja dalam hal kepercayaan, tetapi juga pada sistem sosial dalam masyarakat. Struktur pemerintahan kerajaan dan sistem kasta menimbulkan tingkatan status sosial dalam masyarakat. Masuknya pengaruh Hindu–Budha di Indonesia terjadi akibat asimilasi serta adaptasi kebudayaan Hindu-Budha India yang dibawa oleh para pedagang dan pendeta Hindu-Budha dari India dengan kebudayaan prasejarah di Indonesia. Kedua sistem keagamaan ini mengalami akulturasi dengan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya di Indonesia yaitu pengkultusan terhadap arwah nenek moyang, dan kepercayaan terhadap spirit yang ada di alam sekitar. Kemudian kerap tumpang tindih dan bahkan terpadu ke dalam pemujaan-pemujaan sinkretisme Hindu-Budha Indonesia. (Claire Holt diterjemahkan oleh RM. Soedarsono, 2000)
Tumbuh dan berkembangnya kebudayan Hindu-Budha di Indonesia kemudian melahirkan kesenian berupa  seni ukir dengan beraneka ragam hias, dan patung perwujudan dewa-dewa. Dalam sistem sosial kemudian lahir sistem pemerintahan kerajaan yang berdasarkan kepada kepercayaan Hindu seperti kerajaan Sriwijaya di Sumatra, kerajaan Kutai di Kalimantan, kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat, Mataram Kuno Jawa Tengah. Hingga kerajaan Majapahit di Jawa Timur dengan maha patih Gajah Mada yang tersohor, yang kemudian membawa pengaruh Hindu ke Bali. Seni ukir tradisional masih diwarisi hingga saat ini.
Peran seni kriyapun menjadi semakin berkembang tidak saja sebagai komponen dalam hal kepercayaan/agama, namun juga menjadi konsumsi golongan elit bangsawan yaitu sebagai penanda status kebangsawanan. Kondisi tersebut menjadikan kriya sebagai seni yang bersifat elitis karena menduduki posisi terhormat pada masanya, berbeda dengan kerajinan yang cenderung tumbuh pada kalangan masyarakat biasa atau golongan rendah.
Akan tetapi keadaannya berbeda pada masa modern, dimana tingkatan sosial seperti pada masa kerajaan yang disebut “kasta” sudah tidak lagi eksis. Kalaupun ada tingkatan sosial kini tidak lagi berdasarkan “kasta” atau kebangsawanan yang dimiliki oleh seseorang, akan tetapi kemapanan ekonomi kini menjadi penanda bagi status seseorang. Artinya tarap ekonomi yang dimiliki seseorang dapat membedakan posisi mereka dari orang lain, secara sederhana kekuasan sekarang ditentukan oleh kemampuan ekonomi yang dimiliki seseorang. Dalam sistem masyarakat modern kondisinya telah berubah kaum elit yang dulunya ditempati oleh kaum bangsawan (ningrat), sekarang digantikan kalangan konglomerat (pemilik modal). Kondisi ini membawa dampak bagi pada posisi kriya, karena kini kriya mulai kehilangan struktur sosial yang menopang eksistensinya seperti pada masa lalu.
Situasi ini menjadikan kriya tidak lagi menjadi seni yang spesial karena posisi terhormatnya di masa lalu kini sudah terancam tidak eksis lagi, kriya kini menjadi sebuah artefak warisan masa lalu. Terlebih lagi dalam industri budaya seperti sekarang kedudukan kriya kini tidak lebih sebagai obyek pasar, yang diproduksi secara masal dan diperjualbelikan demi kepentingan ekonomi. Kriya kini mengalami desakralisasi dari posisi yang terhormat di masa lalu, yang adiluhung merupakan artefak yang tetap dihormati namun sekaligus juga direduksi dan diproduksi secara terus-menerus.
Kehadiran kriya pada jenjang pendidikan adalah sebuah upaya mengangkat kriya dari hanya sebagai artefak, untuk menjadikannya sebagai seni yang masih bisa eksis dan terhormat sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Inilah tugas berat insan kriya kini. Dalam perkembangan selanjutnya sejalan dengan perkembangan jaman, konsep kriyapun terus berkembang. Perubahan senantiasa menyertai setiap gerak laju perkembangan zaman, praktek seni kriya yang pada awalnya sarat dengan nilai fungsional, kini dalam prakteknya khususnya di akademis seni kriya mengalami pergeseran orientasi penciptaan. Kriya kini menjelma menjadi hanya pajangan semata dengan kata lain semata-mata seni untuk seni. Pergerakan ini kemudian melahirkan kategori-kategori dalam tubuh kriya, kategori tersebut antara lain kriya seni, dan desain kriya

KERAJINAN KUNINGAN

KERAJINAN KUNINGAN

Dibuat dari tempaan logam kuningan yaitu adalah paduan antara 2 logam tembaga dan logam seng dengan kadar tembaga antara 60-96% massa. Dalam istilah pertambangan/perdagangan dikenal 2 jenis kuningan, yaitu:
  • Kawat kuningan (brass wire) kadar tembaga antara 62-95%
  • Pipa kuningan (seamless brass tube) kadar tembaga antara 60-90% (Sumber: Dep.PU, 1985)
  • Plat kuningan (brass sheet) kadar tembaga antara 60-90%
  • Tembaga dalam kuningan membuat kuningan bersifat antiseptik, melewati efek oligodinamis. Contohnya, gagang pintu yang terbuat dari kuningan dapat mendisinfeksi diri dari banyak bakteri dalam waktu 8 jam. Efek ini penting dalam rumah sakit, dan berguna dalam banyak konteks.
sifat dan bentuk logan kuningan :
  • biasanya berwarna kekuning kuningan mengkilap
  • hampir mirip emas warnanya